Sunday, November 21, 2010

Puasa 9 Zulhijjah Haram ???



“Tepat gelincir matahari petang tadi, bermulalah perhimpunan agung umat islam yang mengunjungi baitullah untuk mengerjakan haji, hari ini mereka memulakan acara kemuncak perhimpunan raksasa umat dengan berkampung dipadang arafah sebagai symbol ketaatan dan penyerahan diri kepada tuhan yang maha esa.” lancar pemberita bulletin perdana TV3 di malam itu membacakan ulasan beritanya diselangi dengan rakaman dan lintas langsung temuramah dari tanah haram tersebut.

Berdesing telinga Mak Temah mendengarnya. “Ini yang aku tak suka ni !, Selalu sangat macam ni , kita dah rancang nak puasa arafah esok hari ….. melepaslah, kerajaan pun satu, buat kalender langsung tak nak ikut waktu mekah, kan mekah tu kiblat umat islam… macam mana la orang2 jabatan agama tu kerja…”ngomel mak temah menzahirkan rasa terkilannya malam tu, usianya yang sudah meningkat senja memotivasikan dirinya untuk memperbanyakkan ibadah, namun kekhilafan setengah pihak sebegini menyebabkan dirinya terlepas peluang agung menambah pahala.

Yalah Mak, kak long pun sama, pernah sekalai tu, dah bangun sahur dan niat puasa arafah baik2, tapi bila tiba kat sekolah semua kawan2 pakat berbuka dan sebut takde guna dah puasa hari ni, puasa arafah sempena wukuf di mekah, kalau wukuf dah lepas, takde maknanya puasa … mungkin boleh jatuh haram pulak sebab berpuasa dihari raya. Patutnya hari ni dah raya haji la, malu kak long, cepat2 sembunyi dan batalkan puasa … sampuk kak long arifah mengiakan ngomelan ibunya. Perasaan aib dan segan seolah masih tersimbah panas ke ruang wajah maruahnya.

Bagaimana pula anda ?

Adakah kita juga menjadi mangsa keadaan seumpama ini ?

Dua kerajaan gajah bertempur meletakkan takwim, kita kancil pula mati terhimpit ditengahnya, terlepas ruang dan peluang beribadat.



Asas prinsipnya mudah, semudah ajaran islam yang ringkas dan bersesuaian dengan segenap lapisan usia dan masyarakat, merentasi budaya bangsa dan geografi kaum.

Islam ditegakkan berdasarkan ilmu bukannya sentimen emosi, islam agama realiti bukannya fantasi, ia praktikal dan mudah difahami bukannya mitos penuh teka teki, dan islam agama ilahi milik tuhan bukannya kiblat buta pada mana2 pemimpin ataupun negara bangsa.

Mungkin saya melihat isu ini melalui beberapa sudut pandang berbeza :

1. Puasa Sembilan Vs Sembilan Puasa

Berdasarkan hadits yang tsabit (sah) dalam riwayat Ahmad dan Nasa’i dari Hafshah radhiyallahu ‘anha:

الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ َ أَنَّ رَسُولَاللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم كَانَ يَصُومُ تِسْعًا مِنْ ذِي

“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa sembilan hari bulan Dzulhijjjah, hari ‘Asyura (10 Muharram) serta tiga hari dalam setiap bulan.”

Ternyata jelas melalui hadis rasulullah ini menyatakan tentang kemuliaan puasa sembilan hari dibulan zulhijjah, lafaz TISÁN yang bermaksud sembilan hari dan bukannya TASIÁN yang bermakna hari kesembilan di dalamnya membuktikan kewajaran pandangan ini.

Ramai antara kita yang hanya ingin mengambil kesempatan mudah dalam beribadat dan tidak mengaplikasinya berdasarkan ilmu dan dalil agama, maka kita lihat ramai yang berlumba2 untuk memprogramkan ibadah bermusim dan bukannya bervisi dan berkualiti.

Ketetapan puasa hanya pada 9 zulhijjah sahaja seperti inilah yang biasanya menyebabkan pesimis ibadah dan salah sangka. Sekiranya kita mahu benar mahu mengamalkan sunnah rasulnya, keluarlah dari kepompong ibadah program sebegini, tukarkannya dengan ibadah ilmu dan kesedaran.


Bukankah Rasul juga ada bersabda :

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ

“Berpuasa pada hari ‘Arafah dapat menghapuskan dosa di tahun yang lalu dan setelahnya.” (HR. Muslim)

Bukankah hadis ini menjelaskan rasul mengalakkan kita melebihkan hari 9 zulhijjah ini dalam peribadatan puasa dan memberikannya keistimewaan dengan kemuliaan wukuf di arafah ? Inikan tanda puasa 9 zulhijjah sahaja sudah memadai.!!

Benarkah begitu .....

Allah lebih mengetahui tatkala rasul meluncurkan tinta bicaranya yang akhirnya tertulis dan tersebar keseluruh buana ini, dan lafaz rasul menyatakan secara jelasnya sebagai puasa arafah dan bukannya puasa 9 zulhijjah. !!

Mungkin sang murabbi agung ini sudah mendapat visi perselisihan umat diakhir zaman nanti yang berlainan sempadan geografi dan melata penganut islamnya ini, tatkala wukuf dilaksanakan di arafah mungkin dinegara yang berjauhan tempat terbit hilal anak bulannya masih menunjukkan tanggal 8 zulhijjah. Maknanya puasa arafah di mekah bersamaan 8 zulhijjah dinegara lain.

Dan ini juga bermakna sesiapa yang berpuasa 8 zulhijjah akan mendapat pahala sunat puasa arafah dan siapa yang berpuasa 9 zulhijjah pula mendapat pahala sunat puasa sembilan hari awal dibulan zulhijjah.

Jadi, kenapa perlu melepaskan peluang ibadah keemasan seumpama ini hanya dengan andaian cetek ilmu dan malas bertanya ?

Alangkah ruginya kita.....

Sunday, November 14, 2010

Puasa Sembilan

Kita mungkin sedia maklum tentang puasa 6 di bulan syawal dan kemuliaannya, bahkan ia diangkat menjadi penanda aras kesyukuran dan penerimaan puasa kita.

Tapi tahukah anda, puasa terbaik dan hari terbaik selain Ramadhan ialah pada tanggal 9 Zulhijjah. Tatapilah tulus riwayatnya dan praktiklah seikhlas amalnya.

3. Berpuasa selama sembilan harinya (yakni dari tangal 1-9), terutama hari ‘Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah). Berdasarkan hadits yang tsabit (sah) dalam riwayat Ahmad dan Nasa’i dari Hafshah radhiyallahu ‘anha sbb:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَصُومُ تِسْعًا مِنْ ذِي الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ

“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa sembilan hari bulan Dzulhijjjah, hari ‘Asyura (10 Muharram) serta tiga hari dalam setiap bulan.”

Imam Nawawiy menjelaskan bahwa puasa tersebut sangat dianjurkan sekali. Bahkan ini adalah pendapat jumhur ulama tanpa ada perselisihan lagi, dan mereka sepakat tentang keutamaannya (lih.

Haasyiyah Ar Raudhil Murabba’ 3/452) Lebih ditekankan lagi pada tanggal sembilannya (yakni hari ‘Arafah) bagi yang tidak berada di ‘Arafah. Tentang keutamaannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ

“Berpuasa pada hari ‘Arafah dapat menghapuskan dosa di tahun yang lalu dan setelahnya.” (HR. Muslim)

4. Bertakbir dan berdzikr pada hari-hari tersebut.

Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’aala:

“Dan agar mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan.”( Al Hajj: 28)

Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu keluar ke pasar pada sepuluh hari tersebut seraya mengumandangkan takbir, lalu orang-orang mengikuti takbirnya. Dan sangat dianjurkan bertakbir setelah shalat Subuh hari ‘Arafah sampai akhir hari tasyriq, berikut ini lafaz takbirnya:

اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ لَاِالهَ اِلَّا اللهُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُوَ ِللهِ اْلحَمْدُ

“Allah Maha Besar 2X, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Allah Maha Besar, milik-Nyalah segala puji.”

Imam Ahmad pernah ditanya, “Berdasarkan hadits apa anda berpendapat bahwa takbir diucapkan setelah shalat Subuh hari ‘Arafah sampai akhir hari tasyriq?” Ia menjawab, “Berdasarkan ijma’; yaitu dari Umar, Ali, Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhum.

” Dianjurkan menjaharkan suara takbirnya ketika di pasar, rumah, jalan-jalan dsb. Sunnahnya adalah masing-masing orang bertakbir sendiri-sendiri (tidak dipimpin). Ini berlaku pada semua dzikr dan do’a, kecuali karena tidak hapal sehingga ia harus belajar dengan mengikuti orang lain.

Antara 2 Sepuluh ?



Timbul satu persoalan .... “Hari apakah yang lebih utama antara 10 hari pertama bulan Dzulhijjah dengan 10 hari terakhir bulan Ramadhan?”

Ibnul Qayyim rahimahullah menjawab, “Malam 10 hari terakhir bulan Ramadhan lebih utama daripada malam 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, sedangkan siang hari 10 pertama bulan Dzulhijjah lebih utama dari siang hari sepuluh terakhir bulan Ramadhan.

Dengan perincian ini kesamaran akan hilang. Yang menunjukkan demikian juga adalah karena malam 10 terakhir bulan Ramadhan memiliki kelebihan dengan lailatul qadrnya, di mana hal itu terjadi di malam hari, sedangkan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah memiliki kelebihan di siang harinya, karena terdapat hari nahr, hari ‘Arafah dan hari tarwiyah (8 Dzulhijjah).

” Di antara amal saleh yang disyari’atkan pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah Setelah kita mengetahui keutamaan beramal saleh di sepuluh hari ini, maka berikut ini di antara amal-amal saleh yang disyari’atkan pada hari-hari tersebut:

1. Melaksanakan ibadah Haji dan Umrah

Haji dan Umrah termasuk amalan yang sangat utama yang balasannya adalah surga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَالْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ اِلاَّ الْجَنَّةُ

“Dan hajji mabrur, tidak ada balasan untuknya selain surga.” (HR. Muslim)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Barang siapa yang berhajji dengan tidak berkata-kata kotor dan tidak berbuat kefasikan, maka ia akan kembali seperti hari ketika dilahirkan ibunya.” (HR. Bukhari-Muslim)

2. Memperbanyak shalat sunat setelah mengerjakan yang fardhunya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ لِلَّهِ فَإِنَّكَ لَا تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلَّا رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً

“Hendaknya kamu memperbanyak sujud (yakni dengan banyak melakukan shalat sunat) karena Allah, karena tidaklah kamu bersujud kepada Allah sekali saja, kecuali Allah akan mengangkat derajatmu karenanya dan menggugurkan dosamu karenanya.” (HR. Muslim)

Dan hendaknya seseorang menjaga shalat fardhu yang lima waktu dengan berjama’ah, karena besarnya pahala pada shalat berjama’ah. Apalagi bertepatan dengan hari-hari yang utama (10 hari pertama bulan Dzulhijjah).

Kemuliaan 10

Sumber Dari : http:nurihsan99.blogspot.com

Sebentar lagi hari-hari kebaikan akan tiba, hari di mana amal saleh yang dikerjakan pada hari-hari itu sangat dicintai Allah, bahkan melebihi jihad fii sabiilillah, itulah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهَا أَحَبُّ إِلىَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ – يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ – قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ ؟ قَالَ “وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

“Tidak ada hari di mana amal saleh pada hari itu lebih dicintai Allah ‘Azza wa Jalla daripada hari-hari ini –yakni sepuluh hari (pertama bulan Dzulhijjah)- para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, tidak juga jihad fii sabiilillah?” Beliau menjawab, “Tidak juga jihad fii sabiilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa-raga dan hartanya, kemudian tidak bersisa lagi.” (HR. Bukhari)

Oleh karena itu seorang tabi’in yang bernama Sa’id bin Jubair jika memasuki sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah bersungguh-sungguh sekali dalam beribadah, sampai hampir tidak ada seorang yang mampu beribadah sepertinya. Jika kita memperhatikan hadits di atas, maka kita dapat mengambil beberapa kesimpulan:

Bahwa hari-hari di dunia yang paling utama adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

Amal saleh yang dikerjakan pada hari itu dilipatgandakan pahalanya.
Allah mencintai amal saleh yang dikerjakan di hari-hari itu.

Tentu semua ini membuat seorang muslim berupaya untuk memanfaatkan hari-hari tersebut dengan ketaatan dan ibadah. Allah bersumpah dengan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah Dalam Al Qur’an, Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman,

“Demi waktu fajar—Dan malam yang sepuluh.” (Al Fajr: 1-2)

Banyak ulama salaf yang menafsirkan malam yang sepuluh di sini dengan sepuluh malam yang pertama bulan Dzulhijjah. Di antaranya adalah Ibnu Abbas, Ibnuz Zubair, Ikrimah, Mujahid dan lain-lain.

Pendapat ini dipilih pula oleh Ibnu Jarir Ath Thabariy dan Ibnu Katsir dalam kedua tafsir mereka (lihat Zaadul Masiir karya Ibnul Jauzi 9/103). Dalam surat Al Hajj, Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

“Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagian daripadanya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir. (Al Hajj: 28)

Sebagian ulama yang berpendapat bahwa “hari-hari yang telah ditentukan” adalah sepuluh hari perama bulan Dzulhijjah, di antara mereka adalah Abu Hanifah, Syafi’i dan Ahmad berdasarkan riwayat yang masyhur darinya.

Ini juga pendapat kebanyakan ulama salaf sebagaimana diriwayatkan oleh Mujahid dari Ibnu Umar, Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas. Dan pendapat inilah yang dipegang oleh Al Hasan, ‘Athaa’ dan lain-lain. Hari apakah yang paling utama di antara sepuluh hari ini? Di antara sepuluh hari ini yang paling utama adalah adalah hari haji akbar yaitu hari nahr (10 Dzulhijjah), berdasarkan hadits berikut:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ قُرْطٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَعْظَمَ الْأَيَّامِ عِنْدَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَوْمُ النَّحْرِ ثُمَّ يَوْمُ الْقَرِّ * (ابوداود)

Dari Abdullah bin Qurth dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda, “Sesungguhnya hari yang paling agung di sisi Allah Tabaaraka wa Ta’aala adalah hari nahar, lalu hari qar (setelah hari nahar).” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Hakim)

Saturday, November 6, 2010

Menjejak Silaturrahim

Tika atmosfera kehidupan mula tenang dan berarak lancar di kediaman baru saya di kepulauan mutiara ini. Mendung masalah dan ribut kesibukan sesekali menjengah membadai rutin seharian, namun menanganinya adalah satu kewajipan.

Kita semua pasti berubah dan boleh berubah.

Jika ada yang bertanya, mampukah aku berubah ?

Yakinlah, anda sememangnya boleh berubah dan dilahirkan untuk membuat perubahan.

Percayalah !

Anda bukan lagi insan sama sepuluh tahun dahulu.

Hidung anda juga sudah betah menghirup udara dan mengawal stabil pernafasan kehidupan, bukan lagi dianggap umur hingusan yang kesan lelehan rembesan mukusnya pernah terpamer jelas di lurah bibir.

Bukankah setiap hari kita akan berubah. Rambut dan kuku yang baru.

Aliran darah dan nafas yang baru.

Malulah kita jika ada yang masih ragu untuk melakukan perubahan. Mentaliti Kita akan ditinggalkan terkebelakang oleh fizikal kita sendiri.

Yakinlah anda mampu berubah.


Dan banggalah dengan siapa diri anda selepas sepuluh tahun.

Sepuluh tahun ?

Rupanya sudah lebih sepuluh tahun saya meninggalkan bumi Jordan. Kembara ilmu yang meninggalkan pelbagai nostalgia, juga rakan seperjuangan yang bertebaran.

Dan dikesempatan pulang ke pulau mutiara ini, saya menjejak silaturrahim.

Bersama Ust Mohamad Husin, kami merancang perjumpaan.

Hasilnya, 5 keluarga berkumpul. Dengan rawak rupa yang berbeza. Dengan jambang dan badan yang berisi. Dengan koleksi anak yang bertambah.


Sememangnya kita sentiasa berubah.....

Semoga berjumpa lagi sahabat sepengajian.

1. Keluarga Ustaz Mohd azlan Mohd Nor.

2.Keluarga Ustaz Mohd Husin.

3. Keluarga Ustaz Nik Abd Malek Nik Husin.

4.Keluarga Ustaz Anjang.

5. Keluarga Ustaz Pak Sheikh Ahmad Rusydi Harun.

6. Keluarga Saya.





Wednesday, November 3, 2010

Citra Anak Kelantan


Abah ! Kelantan menang Piala Malaysia 2-1. Begitulah ceria suara anak sulung saya memaklumkan berita yang sudah saya maklumi. Ia dikongsi tika kami sekeluarga menikmati hidangan tengahari ahad yang lepas.

Bahkan debaran kemenangan penuh aksi itu saya tatapi ceria depan kaca televisyen buruk rumah saya bersama adik ipar saya dari kedah yang merupakan penyokong tegar hijau kuning. Kekalahan Kedah pada perlawanan sebelumnya menjadikan dia penyokong tentera merah pula, kita sokong pasukan underdog dan pasukan yang tak pernah jadi juara – ujarnya.

Anak-anak saya terus bercerita dengan asyiknya. Mengenai kemenangan kelantan dan asyiknya mereka tiba waktu pulang keteratak nenda mereka di Guchil Bayam Kelantan. Suara riuh rendah mereka menjadi irama gembira yang saya nikmati tengahari itu, mungkin kesan biusan kemenangan semalam masih berbunga dihati saya.

Tapi tiba2, terasa makanan tengahari itu tersekat dihalkum. Terasa sukar untuk ditelan ke usus. Tak mungkin kerana saiznya, ianya sudah saya lumatkan dengan geraham tua yang banyak berjasa ini. Pijar mata saya merenung anak2 bertuah ini.

Cerianya anak abah bercerita pasal kelantan ya ! Tapi seorang pun anak abah tak pandai kecek kelate, ujar saya menghentikan seketika perbualan mereka. Mereka menoleh pada saya. Cuba menanti hamburan kata seterusnya.


Anak2 abah pandai cakap utara dan sabah, tapi tak seorang pun yang nak cakap kelantan dengan abah. Saya terus memprovokasi mereka.

Abah la yang tak ajar kami ….. seorang anak perempuan saya menyampuk.

Kami semua lahir kat sabah dan kat kedah, sebab tu tak pandai cakap kelantan. Sampuk seorang anak perempuan saya yang lain pula dengan pelat utara campur sabahan yang masih pekat berbaki.

Semua cakap suka beraya dan jumpa keluarga abah dan sepupu2 di kelantan, tapi semua tak juga pandai bercakap dengan bahasa kelantan. Dan kalau nak jadi ore kelate sejati, semua kena suka makan keropok lekor dan budu. Spontan saya membalasnya sambil mengingati betapa fanatiknya saya pada makanan tersebut walaupun sudah merantau sekian lama, teringat betapa terkialnya saya suatu hari menguli ikan dan tepung sendiri untuk membuat keropok lekor setelah diijazahkan resepinya oleh rakan ustaz dari kelantan yang membuka perniagaan keropok lekornya di tawau.

Hehe… kami memang suka makan keropok lekor, tapi tak suka makan budu !! Budu tak sedap! Abah pun bukan selalu makan budu. Bercakap pun bukan dengan bahasa kelantan selalu. Abah ceramah tak guna bahasa kelantan pun….Mereka pula memprovokasi saya.

Betul juga …. Kekurangan yang baru saya sedar sendiri selepas terlibat memantau dan mendedikasi kelompok pimpinan mahasiswa kelantan di UMS dulu.

Ternyata dalam satu program khusus anak kelantannya saya terkial berceramah, tergeliat lidah dan terkulat dalam mesej yang tersangkut ideanya bila saya cuba mengolahnya dalam loghat ibunda saya. Akhirnya saya tewas dan meneruskan ceramah selepas terlebih dahulu meminta permisi berbicara dalam nada yang lebih standard. Sejak hari itu, saya fobia untuk dipanggil bercakap didepan program khusus anak kelantan.

Usai makan saya berfikir semula.

Kemuliaan anak kelantan bukan pada loghat atau budunya. Bukan pada gedebe dan fanatiknya. Bukan juga pada asabiyah dan comel lotenya.

Tapi kemuliaan kita adalah pada kekentalan jiwa agama yang dititip begitu lama oleh para mujahid islam terdahulu. Perjuangan tok janggut dalam mendaulatkan islam dan meminggirkan ketuanan penjajah adalah semata2 untuk menunjukkan jatidiri islam ini harus menebal dan bercambah terus merentasi generasi.

Kerana itu juga, komitmen mendaulatkan islam bersama kepimpinan ulamak juga harus terus tega bersarang di sanubari tentera merah yang mampu membuka mata khalayak untuk menilai dan menghakiminya.

Hanya islam yang akan memuliakan kita.

Dan anak2 saya perlu dibentuk seiring jiwa beragama yang memuliakan tentera merah ini.

Persis kata saidina Umar al Khattab tatkala menerima kemuliaan memegang kunci kota Palestin : Islam yang memuliakan kita, siapa yang mencari kemuliaan bukan dengan agama ini, dia akan terhina.

Tuesday, November 2, 2010

Dambaan Piala atau Piala Sembahan



Selama 89 tahun, akhirnya Bandaraya Islam Kota Bharu mampu memeluk gahnya gemerlap Piala Malaysia. Ianya tiba dalam perarakan penuh warna keriangan dan debaran syukur kepuasan ke Stadium bertuah Sultan Muhammad Ke 4 siang tadi.

Kesabaran dan komitmen seluruh rakyatnya tanpa mengira idealogi kepartian akhirnya berbaloi diraikan dengan kemenangan sulung ini. Bahkan terakam dalam sejarah, eksklusif final piala Malaysia tersebut menyaksikan kedua parti politik terbesar di Malaysia memperlahankan rentak kempen masing2 untuk pilihanraya kecil Galas semata2 untuk memberi laluan kepada kehangatan tumpuan bahang piala Malaysia yang didominasi Kelantan tempohari.

Ianya juga memberi ruang untuk anak rantau kelantan yang bertebaran untuk pulang secermat mungkin ke destinasi selepas berjaya merangkul impian yang terpendam selama ini. Ternyata kesabaran bertahun akhirnya terhapus dengan kemenangan di kemuncak pertandingan akhir semalam.

Terasa asyiknya melihat lautan merah menghuni gahnya stadium bukit jalil yang menjadi ikon pembangunan sukan di Malaysia. Ternyata malam itu milik kelantan.



Dan alhamdulillah, semasa meninjau ke blog2 anak kelantan yang masih berbicara penuh syukur dengan nikmat kejayaan ini. Saya tersingkap foto2 keunikan para tentera merah ini yang masih sempat untuk sujud mengabdikan diri pada pencipta. Dengan keluasan surau yang takkan mampu memenuhkan gelombang merah ini, mereka tanpa malu dan kekok mencari ruang solat antara bangunan yang anda untuk melunaskan amanah sebagai hamba kepada yang maha esa.


Moga ianya tanda perhambaan yang sejati, hiburan yang takkan pernah melalaikan hambanya. Moga inilah symbol pembangunan spiritual dan keagamaan yang dititik beratkan kepimpinan bersama ulama ini dinegeri kelantan, walaupun rakyatnya terus dinafikan pembangunan material dan bangunan, sahsiah unggul berteraskan iman ini harus terus terpamer dari setiap penghuni warga tentera merah ini, di ceruk dan rantau mana sekalipun ….. kerana resmi kita warga perantau, yang suatu hari nanti pulang kepangkuan rahmat ilahi.


Namun, dalam riak kegembiraan dan kesyukuran, janganlah sengaja kita menempah bencana dengan menjulang kemungkaran dan menunjangkan kebobrokan. Merayakan kemenangan dengan pesta dan keseronokan tanpa mengenal tuhan hanya akan mengecewakan kita akhirnya.

Ambillah pengajaran sebaik mungkin atas kejadian yang menimpa peserta muda dari Belia 4B Baling yang terpilih untuk meraikan kesyukuran dan menghilangkan kebosanan dengan hadiah kunjungan ke Genting. Tanpa diduga keriangan mereka mencipta duka yang berpanjangan. Siapa tahu perancangan ilahi ?

Dan kita sebagai hambanya takkan mampu merasa aman dari perancangan tuhan ini .



Bersyukur dan berwaspadalah, antara nikmat dan dugaan, terlampau banyak ranjau helahnya. Kreativiti syaitan menipu manusia.

Dan esok….. Bermula cuti Deepavali untuk saya di sekolah ST Xavier ini. Cuti panjang 5 hari yang sukar dijumpai dan rugi dibazirkan begitu saja.

Persoalannya , patutkah saya pulang ke Kelantan untuk bermandi simbahan cahaya kemenangan Piala Malaysia ini ? Berbaloikah ?

Moga Piala ciptaan manusia ini tidak menjadi tuhan yang menyesatkan manusia.