Sunday, November 14, 2010

Antara 2 Sepuluh ?



Timbul satu persoalan .... “Hari apakah yang lebih utama antara 10 hari pertama bulan Dzulhijjah dengan 10 hari terakhir bulan Ramadhan?”

Ibnul Qayyim rahimahullah menjawab, “Malam 10 hari terakhir bulan Ramadhan lebih utama daripada malam 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, sedangkan siang hari 10 pertama bulan Dzulhijjah lebih utama dari siang hari sepuluh terakhir bulan Ramadhan.

Dengan perincian ini kesamaran akan hilang. Yang menunjukkan demikian juga adalah karena malam 10 terakhir bulan Ramadhan memiliki kelebihan dengan lailatul qadrnya, di mana hal itu terjadi di malam hari, sedangkan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah memiliki kelebihan di siang harinya, karena terdapat hari nahr, hari ‘Arafah dan hari tarwiyah (8 Dzulhijjah).

” Di antara amal saleh yang disyari’atkan pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah Setelah kita mengetahui keutamaan beramal saleh di sepuluh hari ini, maka berikut ini di antara amal-amal saleh yang disyari’atkan pada hari-hari tersebut:

1. Melaksanakan ibadah Haji dan Umrah

Haji dan Umrah termasuk amalan yang sangat utama yang balasannya adalah surga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَالْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ اِلاَّ الْجَنَّةُ

“Dan hajji mabrur, tidak ada balasan untuknya selain surga.” (HR. Muslim)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Barang siapa yang berhajji dengan tidak berkata-kata kotor dan tidak berbuat kefasikan, maka ia akan kembali seperti hari ketika dilahirkan ibunya.” (HR. Bukhari-Muslim)

2. Memperbanyak shalat sunat setelah mengerjakan yang fardhunya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ لِلَّهِ فَإِنَّكَ لَا تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلَّا رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً

“Hendaknya kamu memperbanyak sujud (yakni dengan banyak melakukan shalat sunat) karena Allah, karena tidaklah kamu bersujud kepada Allah sekali saja, kecuali Allah akan mengangkat derajatmu karenanya dan menggugurkan dosamu karenanya.” (HR. Muslim)

Dan hendaknya seseorang menjaga shalat fardhu yang lima waktu dengan berjama’ah, karena besarnya pahala pada shalat berjama’ah. Apalagi bertepatan dengan hari-hari yang utama (10 hari pertama bulan Dzulhijjah).

Kemuliaan 10

Sumber Dari : http:nurihsan99.blogspot.com

Sebentar lagi hari-hari kebaikan akan tiba, hari di mana amal saleh yang dikerjakan pada hari-hari itu sangat dicintai Allah, bahkan melebihi jihad fii sabiilillah, itulah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهَا أَحَبُّ إِلىَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ – يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ – قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ ؟ قَالَ “وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

“Tidak ada hari di mana amal saleh pada hari itu lebih dicintai Allah ‘Azza wa Jalla daripada hari-hari ini –yakni sepuluh hari (pertama bulan Dzulhijjah)- para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, tidak juga jihad fii sabiilillah?” Beliau menjawab, “Tidak juga jihad fii sabiilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa-raga dan hartanya, kemudian tidak bersisa lagi.” (HR. Bukhari)

Oleh karena itu seorang tabi’in yang bernama Sa’id bin Jubair jika memasuki sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah bersungguh-sungguh sekali dalam beribadah, sampai hampir tidak ada seorang yang mampu beribadah sepertinya. Jika kita memperhatikan hadits di atas, maka kita dapat mengambil beberapa kesimpulan:

Bahwa hari-hari di dunia yang paling utama adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

Amal saleh yang dikerjakan pada hari itu dilipatgandakan pahalanya.
Allah mencintai amal saleh yang dikerjakan di hari-hari itu.

Tentu semua ini membuat seorang muslim berupaya untuk memanfaatkan hari-hari tersebut dengan ketaatan dan ibadah. Allah bersumpah dengan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah Dalam Al Qur’an, Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman,

“Demi waktu fajar—Dan malam yang sepuluh.” (Al Fajr: 1-2)

Banyak ulama salaf yang menafsirkan malam yang sepuluh di sini dengan sepuluh malam yang pertama bulan Dzulhijjah. Di antaranya adalah Ibnu Abbas, Ibnuz Zubair, Ikrimah, Mujahid dan lain-lain.

Pendapat ini dipilih pula oleh Ibnu Jarir Ath Thabariy dan Ibnu Katsir dalam kedua tafsir mereka (lihat Zaadul Masiir karya Ibnul Jauzi 9/103). Dalam surat Al Hajj, Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

“Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagian daripadanya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir. (Al Hajj: 28)

Sebagian ulama yang berpendapat bahwa “hari-hari yang telah ditentukan” adalah sepuluh hari perama bulan Dzulhijjah, di antara mereka adalah Abu Hanifah, Syafi’i dan Ahmad berdasarkan riwayat yang masyhur darinya.

Ini juga pendapat kebanyakan ulama salaf sebagaimana diriwayatkan oleh Mujahid dari Ibnu Umar, Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas. Dan pendapat inilah yang dipegang oleh Al Hasan, ‘Athaa’ dan lain-lain. Hari apakah yang paling utama di antara sepuluh hari ini? Di antara sepuluh hari ini yang paling utama adalah adalah hari haji akbar yaitu hari nahr (10 Dzulhijjah), berdasarkan hadits berikut:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ قُرْطٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَعْظَمَ الْأَيَّامِ عِنْدَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَوْمُ النَّحْرِ ثُمَّ يَوْمُ الْقَرِّ * (ابوداود)

Dari Abdullah bin Qurth dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda, “Sesungguhnya hari yang paling agung di sisi Allah Tabaaraka wa Ta’aala adalah hari nahar, lalu hari qar (setelah hari nahar).” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Hakim)

Saturday, November 6, 2010

Menjejak Silaturrahim

Tika atmosfera kehidupan mula tenang dan berarak lancar di kediaman baru saya di kepulauan mutiara ini. Mendung masalah dan ribut kesibukan sesekali menjengah membadai rutin seharian, namun menanganinya adalah satu kewajipan.

Kita semua pasti berubah dan boleh berubah.

Jika ada yang bertanya, mampukah aku berubah ?

Yakinlah, anda sememangnya boleh berubah dan dilahirkan untuk membuat perubahan.

Percayalah !

Anda bukan lagi insan sama sepuluh tahun dahulu.

Hidung anda juga sudah betah menghirup udara dan mengawal stabil pernafasan kehidupan, bukan lagi dianggap umur hingusan yang kesan lelehan rembesan mukusnya pernah terpamer jelas di lurah bibir.

Bukankah setiap hari kita akan berubah. Rambut dan kuku yang baru.

Aliran darah dan nafas yang baru.

Malulah kita jika ada yang masih ragu untuk melakukan perubahan. Mentaliti Kita akan ditinggalkan terkebelakang oleh fizikal kita sendiri.

Yakinlah anda mampu berubah.


Dan banggalah dengan siapa diri anda selepas sepuluh tahun.

Sepuluh tahun ?

Rupanya sudah lebih sepuluh tahun saya meninggalkan bumi Jordan. Kembara ilmu yang meninggalkan pelbagai nostalgia, juga rakan seperjuangan yang bertebaran.

Dan dikesempatan pulang ke pulau mutiara ini, saya menjejak silaturrahim.

Bersama Ust Mohamad Husin, kami merancang perjumpaan.

Hasilnya, 5 keluarga berkumpul. Dengan rawak rupa yang berbeza. Dengan jambang dan badan yang berisi. Dengan koleksi anak yang bertambah.


Sememangnya kita sentiasa berubah.....

Semoga berjumpa lagi sahabat sepengajian.

1. Keluarga Ustaz Mohd azlan Mohd Nor.

2.Keluarga Ustaz Mohd Husin.

3. Keluarga Ustaz Nik Abd Malek Nik Husin.

4.Keluarga Ustaz Anjang.

5. Keluarga Ustaz Pak Sheikh Ahmad Rusydi Harun.

6. Keluarga Saya.





Wednesday, November 3, 2010

Citra Anak Kelantan


Abah ! Kelantan menang Piala Malaysia 2-1. Begitulah ceria suara anak sulung saya memaklumkan berita yang sudah saya maklumi. Ia dikongsi tika kami sekeluarga menikmati hidangan tengahari ahad yang lepas.

Bahkan debaran kemenangan penuh aksi itu saya tatapi ceria depan kaca televisyen buruk rumah saya bersama adik ipar saya dari kedah yang merupakan penyokong tegar hijau kuning. Kekalahan Kedah pada perlawanan sebelumnya menjadikan dia penyokong tentera merah pula, kita sokong pasukan underdog dan pasukan yang tak pernah jadi juara – ujarnya.

Anak-anak saya terus bercerita dengan asyiknya. Mengenai kemenangan kelantan dan asyiknya mereka tiba waktu pulang keteratak nenda mereka di Guchil Bayam Kelantan. Suara riuh rendah mereka menjadi irama gembira yang saya nikmati tengahari itu, mungkin kesan biusan kemenangan semalam masih berbunga dihati saya.

Tapi tiba2, terasa makanan tengahari itu tersekat dihalkum. Terasa sukar untuk ditelan ke usus. Tak mungkin kerana saiznya, ianya sudah saya lumatkan dengan geraham tua yang banyak berjasa ini. Pijar mata saya merenung anak2 bertuah ini.

Cerianya anak abah bercerita pasal kelantan ya ! Tapi seorang pun anak abah tak pandai kecek kelate, ujar saya menghentikan seketika perbualan mereka. Mereka menoleh pada saya. Cuba menanti hamburan kata seterusnya.


Anak2 abah pandai cakap utara dan sabah, tapi tak seorang pun yang nak cakap kelantan dengan abah. Saya terus memprovokasi mereka.

Abah la yang tak ajar kami ….. seorang anak perempuan saya menyampuk.

Kami semua lahir kat sabah dan kat kedah, sebab tu tak pandai cakap kelantan. Sampuk seorang anak perempuan saya yang lain pula dengan pelat utara campur sabahan yang masih pekat berbaki.

Semua cakap suka beraya dan jumpa keluarga abah dan sepupu2 di kelantan, tapi semua tak juga pandai bercakap dengan bahasa kelantan. Dan kalau nak jadi ore kelate sejati, semua kena suka makan keropok lekor dan budu. Spontan saya membalasnya sambil mengingati betapa fanatiknya saya pada makanan tersebut walaupun sudah merantau sekian lama, teringat betapa terkialnya saya suatu hari menguli ikan dan tepung sendiri untuk membuat keropok lekor setelah diijazahkan resepinya oleh rakan ustaz dari kelantan yang membuka perniagaan keropok lekornya di tawau.

Hehe… kami memang suka makan keropok lekor, tapi tak suka makan budu !! Budu tak sedap! Abah pun bukan selalu makan budu. Bercakap pun bukan dengan bahasa kelantan selalu. Abah ceramah tak guna bahasa kelantan pun….Mereka pula memprovokasi saya.

Betul juga …. Kekurangan yang baru saya sedar sendiri selepas terlibat memantau dan mendedikasi kelompok pimpinan mahasiswa kelantan di UMS dulu.

Ternyata dalam satu program khusus anak kelantannya saya terkial berceramah, tergeliat lidah dan terkulat dalam mesej yang tersangkut ideanya bila saya cuba mengolahnya dalam loghat ibunda saya. Akhirnya saya tewas dan meneruskan ceramah selepas terlebih dahulu meminta permisi berbicara dalam nada yang lebih standard. Sejak hari itu, saya fobia untuk dipanggil bercakap didepan program khusus anak kelantan.

Usai makan saya berfikir semula.

Kemuliaan anak kelantan bukan pada loghat atau budunya. Bukan pada gedebe dan fanatiknya. Bukan juga pada asabiyah dan comel lotenya.

Tapi kemuliaan kita adalah pada kekentalan jiwa agama yang dititip begitu lama oleh para mujahid islam terdahulu. Perjuangan tok janggut dalam mendaulatkan islam dan meminggirkan ketuanan penjajah adalah semata2 untuk menunjukkan jatidiri islam ini harus menebal dan bercambah terus merentasi generasi.

Kerana itu juga, komitmen mendaulatkan islam bersama kepimpinan ulamak juga harus terus tega bersarang di sanubari tentera merah yang mampu membuka mata khalayak untuk menilai dan menghakiminya.

Hanya islam yang akan memuliakan kita.

Dan anak2 saya perlu dibentuk seiring jiwa beragama yang memuliakan tentera merah ini.

Persis kata saidina Umar al Khattab tatkala menerima kemuliaan memegang kunci kota Palestin : Islam yang memuliakan kita, siapa yang mencari kemuliaan bukan dengan agama ini, dia akan terhina.

Tuesday, November 2, 2010

Dambaan Piala atau Piala Sembahan



Selama 89 tahun, akhirnya Bandaraya Islam Kota Bharu mampu memeluk gahnya gemerlap Piala Malaysia. Ianya tiba dalam perarakan penuh warna keriangan dan debaran syukur kepuasan ke Stadium bertuah Sultan Muhammad Ke 4 siang tadi.

Kesabaran dan komitmen seluruh rakyatnya tanpa mengira idealogi kepartian akhirnya berbaloi diraikan dengan kemenangan sulung ini. Bahkan terakam dalam sejarah, eksklusif final piala Malaysia tersebut menyaksikan kedua parti politik terbesar di Malaysia memperlahankan rentak kempen masing2 untuk pilihanraya kecil Galas semata2 untuk memberi laluan kepada kehangatan tumpuan bahang piala Malaysia yang didominasi Kelantan tempohari.

Ianya juga memberi ruang untuk anak rantau kelantan yang bertebaran untuk pulang secermat mungkin ke destinasi selepas berjaya merangkul impian yang terpendam selama ini. Ternyata kesabaran bertahun akhirnya terhapus dengan kemenangan di kemuncak pertandingan akhir semalam.

Terasa asyiknya melihat lautan merah menghuni gahnya stadium bukit jalil yang menjadi ikon pembangunan sukan di Malaysia. Ternyata malam itu milik kelantan.



Dan alhamdulillah, semasa meninjau ke blog2 anak kelantan yang masih berbicara penuh syukur dengan nikmat kejayaan ini. Saya tersingkap foto2 keunikan para tentera merah ini yang masih sempat untuk sujud mengabdikan diri pada pencipta. Dengan keluasan surau yang takkan mampu memenuhkan gelombang merah ini, mereka tanpa malu dan kekok mencari ruang solat antara bangunan yang anda untuk melunaskan amanah sebagai hamba kepada yang maha esa.


Moga ianya tanda perhambaan yang sejati, hiburan yang takkan pernah melalaikan hambanya. Moga inilah symbol pembangunan spiritual dan keagamaan yang dititik beratkan kepimpinan bersama ulama ini dinegeri kelantan, walaupun rakyatnya terus dinafikan pembangunan material dan bangunan, sahsiah unggul berteraskan iman ini harus terus terpamer dari setiap penghuni warga tentera merah ini, di ceruk dan rantau mana sekalipun ….. kerana resmi kita warga perantau, yang suatu hari nanti pulang kepangkuan rahmat ilahi.


Namun, dalam riak kegembiraan dan kesyukuran, janganlah sengaja kita menempah bencana dengan menjulang kemungkaran dan menunjangkan kebobrokan. Merayakan kemenangan dengan pesta dan keseronokan tanpa mengenal tuhan hanya akan mengecewakan kita akhirnya.

Ambillah pengajaran sebaik mungkin atas kejadian yang menimpa peserta muda dari Belia 4B Baling yang terpilih untuk meraikan kesyukuran dan menghilangkan kebosanan dengan hadiah kunjungan ke Genting. Tanpa diduga keriangan mereka mencipta duka yang berpanjangan. Siapa tahu perancangan ilahi ?

Dan kita sebagai hambanya takkan mampu merasa aman dari perancangan tuhan ini .



Bersyukur dan berwaspadalah, antara nikmat dan dugaan, terlampau banyak ranjau helahnya. Kreativiti syaitan menipu manusia.

Dan esok….. Bermula cuti Deepavali untuk saya di sekolah ST Xavier ini. Cuti panjang 5 hari yang sukar dijumpai dan rugi dibazirkan begitu saja.

Persoalannya , patutkah saya pulang ke Kelantan untuk bermandi simbahan cahaya kemenangan Piala Malaysia ini ? Berbaloikah ?

Moga Piala ciptaan manusia ini tidak menjadi tuhan yang menyesatkan manusia.

Sunday, October 31, 2010

Menempa Sejarah



NEGERI SEMBILAN 1
Shahurain Abu Samah (pen m-14)

KELANTAN 2
Hairuddin Omar (m-57)
Muhd Badhri Radzi (m-65)



KUALA LUMPUR – Kelantan muncul juara Piala Malaysia edisi kali ke-84 setelah mengalahkan juara musim lalu, Negeri Sembilan dengan kemenangan 2-1 dalam perlawanan akhir yang berlangsung di Stadium Nasional, Bukit Jalil, Kuala Lumpur malam tadi.

Lebih manis, kejayaan muncul juara pertama kali itu merupakan hadiah istimewa sempena pemasyhuran Sultan Kelantan yang baru, Sultan Muhammad Ke-V. Kejayaan malam tadi membolehkan nama Kelantan terpahat dalam senarai pemenang kali pertama dalam perebutan piala paling berprestij itu sejak ianya dipertandingkan pada tahun 1921.

Beraksi dihadapan hampir 90,000 penonton, dengan didominasi sokongan penyokong setia Merah Putih, The Red Warriors jelas membuktikan mengapa mereka tidak boleh digelar sebagai kuasa baru dalam arena bola sepak tempatan apabila mempamerkan aksi kelas yang tersendiri biarpun ketinggalan satu gol pada separuh masa yang pertama.

Sementara kekalahan malam tadi memaksa barisan pemain Negeri Sembilan menelan kepahitan gagal mempertahankan kejuaraan yang dimenanginya musim lalu apabila terpaksa merelakan piala tersebut untuk dibawa pulang ke bumi Negeri Cik Siti Wan Kembang buat pertama kali.



Dua gol dalam tempoh lapan minit pada awal babak kedua menerusi jaringan Hairuddin Omar dan Muhd Badhri Radzi akhirnya menjulang Kelantan sebagai juara baru Piala Malaysia edisi kali ke-84.

Dan dari http://sangkunang.blogspot.com/ saya menampal turun foto sejarah tercipta ini.



Thursday, October 28, 2010

Kreativiti Membina Soalan



Kreatif itu hikmah. Hikmah itu kebijaksanaan.

Kebijaksanaan itu merupakan khazanah mukmin yang paling berharga. Bukan sedikit ayat ilahi yang menggetus hikmah dalam berdakwah, bahkan hikmah diperlukan hampir disemua posisi dakwah samada bertamu didepan penguasa zalim menyatakan yang makruf dan mungkar, atau berada di situasi mendamaikan sengketa nusyuz isteri mahupun ketika menyampaikan formula ilmu dan kebaikan. Hikmah sememangnya senjata ampuh islam memenangkan kebenaran.

Wahyu allah pernah membisikkan : Serulah (berdakwahlah) di jalan allah dengan penuh hikmah kebijaksanaan, juga gunakanlah nasihat yang baik dan menyenangkan atau jika perlu berdebatlah dengan cara yang paling terhormat untuk mematahkan hujjah lawan.

Hikmah datang dengan pelbagai dimensi.

Standardnya berbeza menyantuni kepelbagaian ragam akal manusiawi.

Jangan pula berlagak akademik tika menyantuni fikrah persoalan anak kecil, dan jangan juga terlalu berteori tika berdepan sang remaja yang sedang dibakar amarah mudanya, lagi tak wajar melayani pak tua hanya dengan bicara panjang yang membosankan.

Bukankah nabi pernah berpesan : ucapkanlah bicaramu berpandukan kondisi tahap akal yang mendengar. Jika tidak, pastinya ia satu noktah kesalahan yang memalitkan nista pada maruah kalaupun ia bukannya pembaziran lisandan mungkin juga kebiasaannya menimbulkan kecamuk fitnah.

Antara method hikmah yang terbaik….. lontarkanlah soalan.



Soalan membuka pintu ilmu sebagaimana soalan dapat member nilai pada keberkesanan pengajaran atau mendedahkan kebebalan penanya.

Mereka yang pandai mengutarakan soalan akan memanfaatkan khalayak dengan krisis persoalannya. Minda menjadi kritis dalam menyimpulkan pengalaman kehidupan menjadi tandatanya. Bahkan ketepatan soalannya akan menjurus kepada pintu ilmu yang lebih tinggi dan baik….

Tapi jangan tersalah soal. Soalan yang tidak kena pada tempatnya hanya akan mengundang malu. Soalan yang disangka madu kebijaksanaan rupanya hampas kedunguan pemiliknya.

Bayangkan tika pengajian penuh persoalan puasa yang dikupas panjang lebar berdasarkan hukum, hikmah dan peraturannya. Semua audiens bersemangat menjamu pemikiran mereka dengan jawapan pada persoalan ibadah mereka yang ingin dijana sebaiknya. Persoalan batal dan rukhsah puasa dibincangkan sewajarnya, mencakupi persoalan kesihatan terkini yang sedikit sebanyak akan merencatkan momentum kualiti puasa itu sendiri.
Dan disatu sudut, dengan pakaian bersih jubah putih yang menutupi fizikalnya, dengan serban merah yang berekor kemas berjuntai kekiri bahunya, dengan sedikit janggut menjemput dagunya ia mengangkat tangan bertanyakan soalan persis seorang ulamak besar yang ingin menghakimi viva pembentangan anak muridnya.

Dia bertanya : Macamana ustaz ? Kalau suatu hari kita berpuasa tiba2 kiamat, apakah yang harus kita buat ?? Batalkah puasa kita ?? Jika ya, adakah kita kena ganti puasa kita ?


Soalan yang berona lembut keluar dari halkumnya ternyata seperti halilintar menjamah setiap sudut pendengaran audiens yang lain. Semua terpana kehairanan dan ketakjuban. Sekelip mata ruang masjid turut menyepi.

Satu soalan berani dan berwawasan. Melangkaui zaman. Sang penanya tersenyum kepuasan. Soalannya menggugat kredibiliti si ustaz muda. Kagumnya sendirian disebalik rawak wajah yang cuba ditenangkan.

Tenang sang surau menampung audiens yang terpaku menanti jawapan.

Gelojak nafas mereka tak keruan merenung wajah si ustaz yang barangkali kepanasan.

Apa jawapannya ustaz ???

Soalan istimewa ini susah giler. Bagaimanakah jawapannya ya !

Ustaz tersenyum dan berkata : Biarlah soalan ini kita jawab kemudian. Saya terpaksa selidik dulu jawapannya.

Si ustaz mengelengkan kepala merendah diri, mematikan tujahan pandangan mata yang sedang melingkari tubuhnya,sedangkan dihatinya tertawa berdekah-dekah. Aku ingatkan anak mufti mana yang bergaya hebat dengan jubah keilmuan… rupanya lebai malang yang terkhayal dalam kejahilannya. Jikalau datangnya kiamat, hukum dan syariat sudah tidak terpakai lagi. Kita hanya akan ditanya dengan amalan yang telah kita laksanakan, dan jika mati yang merupakan kiamat kecil juga datang menjemput kita, tak perlu lagi kita meneruskannya kerana kita sudah berada di alam yang lain.

Lebar senyuman si penanya. Pulangnya bangga membawa rekod baru. Soalannya maut tak tercabar di minda sang guru yang mengajar. Esok lusa … boleh dia bertanya lagi. Galak hatinya bermonolog.

Kenapa ustaz tak menjawab ?

Bukankah sebenar-benar ilmu itu ialah mengatakan “Wallahua’lam,saya tak tahu”.

Dan sememangnya ya. Saya tak tahu bagaimana nak menjawab soalan tersebut tanpa menelanjangkan air muka sipenanya dari jubah keilmuaannya. Wallahua’lam.